Rabu, 28 Desember 2016

Naskah Drama Guru Dulacis

(SEBUAH JALAN SEPI. ADA POHON MERANGGAS. MUNCUL DULACIS MENGAYUN SEPEDA TUA BERPAKAIAN SERAGAM KOPRI. BERKOPIAH SERTA MEMBAWA TAS HITAM DIGONCENG SEPEDA SEPEDANYA. TIBA – TIBA BAN SEPEDA MELETUS BERSAMAAN DENGAN BERHENTINYA LAGU ).

Astaga…! lalalala…(TURUN DARI SEPEDA) Wah…! gembos, padahal saya harus    buru – buru ! (MEMERIKSA BAN SEPEDA) Astaga ! Paku ! (PADA PENONTON) Saudara lihat sendiri dijalan sepi begini, sepeda saya yang saunya ini kena paku !  Saudara – saudara tahu paku dari mana kiranya ? tahu – tahu kok ada dijalan sepi ini. Apa mungkin paku ini jatuh dari truk yang pernah mengangkut bahan – bahan proyek pembangunan SD Inpres, dimana saya bekerja disana, dibalik bukit itu (MELIHAT ARLOJI). Waduh ! Pasti terlambat ! Saudara – saudara, saya ini mau upacara tujuh belasan, makanya saya buru – buru  tadi. Saya kebut sepeda tua ini biar cepat sampai, eh…malah jadi kena paku. Sekarang apa yang harus saya lakukan ? (DIAM BERFIKIR SEJENAK) apa sepeda ini ditaruh saja disini ? atau ditinggal sendirian …? Atau saya gendong saja ke balik bukit sana…? (MENGHITUNG – HITUNG JARI) Bawa, tinggal, bawa, tinggal, bawa, tinggal…(TERTAWA) Ya, harus ditinggal ! (SEPEDA DISANDARKAN PADA POHON). Nah ! Kau terpaksa kutinggalkan disini sepedaku. Tapi bagaimana nanti kalau hilang ? (PADA PENONTON) Kalau kutinggalkan lalu hilang wah ! Saya merasa berdosa, karena sepeda ini merupakan sepeda warisan dari pak Odin. Tak baik kalau kutinggalkan (SEPEDA DITUNTUN). Lebih baik dibawa saja. Tapi kalau kubawa pasti terlambat. Pasti upacara tujuh belasan sudah selesai. Akibatnya, wah… repot juga ! (BERFIKIR SESAAT) Baiklah sepeda ini tidak akan dibawa dan biarlah saya terlambat, tidak ikut upacara tujuh belasan. Walaupun tidak biasa. Soalnya terus terang…(PADA PENONTON) Saya terbiasa disiplin. Wong saya ini pegawai negeri. Wong ada        Saptya Prasetya. Tapi bagaimana kalau saya sekali ini absen upacara tujuh belasan. Asal jangan mangkir saja ya ? Kalu seorang guru mangkir ngajar, ya kalau bisa jangan. Apa lagi sering mangkir. Ngono ya ngono, tapi yo ojo ngono (TERTAWA SAMBIL MENYANDARKAN SEPEDANYA KEMBALI). Bagaimanapun tugas seorang guru itu berat dan mulia. Saya jadi ingat kisah legendaris tentang seorang guru dari desa kelahiran saya, namanya Odin. Sedang nama saya Acis (MENEPUK SEPEDANYA). Sepeda ini adalah warisan dari tokoh legendaris itu. Tentu saudara – saudara ingin tahu, bagaimana ceritanya dan kenapa sepeda ini diwariskan kepada saya ? Memang panjang ceritanya. Jangan tertawakan saya saudara – saudara, meski sepeda tua ini agak reyot, tapi nilai pengabdian dan kesejarahannya itu. Semua orang tahu siapa guru Odin. Mereka akan berdecak kagum memuji – mujinya. Pasti diantara saudara – saudara ada yang berfikir. Kenapa saya tidak mencicil motor saja, biar mudah kesana - kemari dan tidak akan terlambat pergi mengajar atau mengikuti upacara tujuh belasan ? (TERTAWA) Bukan tidak mau saya mencicil motor. Guru kecil seperti saya tentu jadi sasaran yang empuk untuk yang namanya kreditan atau cicil – cicilan, tapi saya ini ibarat ; Maksud hati ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin motor atau yang sejenisnya , tapi apa daya gaji pas – pasan, bahkan cekak – cekakkan. Jadinya yang ada saja. Ada sepeda ini. Apalagi sepeda ini warisan dari guru Odin. Terus – terang Saya bangga mengendarainya. Siapa tahu ngalap berkah. Baiklah saya akan bercerita tentang kisah sepeda ini ketika diwariskan kepada saya. Juga sedikit tentang riwayat guru Odin yang legendaris itu. Bagaimana kalau saya bercerita ambil merokok. Biar afdol (MENGHISAP ROKOK). Kita mulai saja. Kenapa saya katakan guru Odin itu seorang guru yang legendaris, khususnya untuk didaerah sekitarnya, dimana saya lahir dan dibesarkan. Konon, dulu ketika yang namanya sekolah masih jarang. Kalaupun ada baru sampai kekecamatan di daerah yang masih dianggap terpencil. Masuklah seorang guru dengan memperkenalkan dirinya, Odin. Orangnya kecil namun trengginas, gesit, dan pantang menyerah. Waktu itu guru Odin masih muda. Saya juga belum lahir. Guru Odin datang ke dukuh kami itu atas permintaan guru ngaji di dukuh kami. Pada awalnya    orang – orang dukuh memandang sebelah mata atas kehadiran guru Odin. Tapi budi pekertinya yang baik, sikapnya yang jujur. Segala bentuk tantangan diselesaikannya dengan tenang dan damai. Akhirnya guru Odin merubah wajah dukuh kami. Dukuh yang tadinya terkenal suka memasok      gadis – gadis kekota, untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Dukuh yang tadinya banyak orang – orang bergajulan, kini banyak yang jadi teladan, menghasilkan guru – guru terpuji. Yang dalam bahasa sekarang, tampil menjadi manusia – manusia pembangunan ! Dukuh – dukuh sekitarnya pun berkat bantuan dan uluran tangan guru Odin, akhirnya secara bersama – sama sepakat mengusulkan agar dijadikan satu desa dan minta diadakan sekolah serta sarana ibadah yang baik. Masih berkat usaha guru Odin. Akhirnya sekolah didirikan dan sarana ibadah sebagai pendampingnya. Karena itu guru Odin dan guru ngaji kami yang biasa dipanggil Wak Udin Solehudin. Mereka berdua menjadi suri tauladan. Mereka biasa dipanggil dua serangkai. Perintis-perintis pemekaran pendidikan di Desa kami. Dan sekarang mereka telah tiada. Lalu ketika saya lahir, kemudian mengenyam sekolah di sekolah dasar. Guru Odin jadi kepala sekolahnya. Saya suka bangga kalau disuruh membawa tas kulit hitamnya. Apalagi sekali-sekali saya suka dibonceng di belakang sepedanya. Saya suka ikut-ikutan nembang bareng-bareng sama beliau. Beliau suka nembang Dangdang gulo (NEMBANG) Nanging yen sira ngguguru kaki/ Amiliha manungsa kang nyata/ Ingkangna becik martabate/ Sarta kang wruh ing hukum/ Kang ngibadah lan kang wirangi/ Sukur oleh wong tapa/ Ingkang wus amungkul/  Tan mikir pawewehing ijan/ Iku pantes sira guronnana kaki/ Saratane kawruhana. Artinya; Kalau tidak salah tentu benar (TERTAWA). Jika kamu berguru/ Pilihlah manusia yang memiliki persyaratan/ Yang baik martabatnya/ Dan tahu akan hukum/ Yang beribadah dan tahu malu/ Syukur dapat orang yang suka bertapa/ Yang sudah tak memikirkan apa-apa lagi/ Tidak memikirkan pemberian orang lain/ Itu pantas kau gurui/ Dan juga perlu kau ketahui. Begitulah saudara-saudara. Maka ketika kawan-kawan sepermainan saya memilih pergi ke kota mengadu nasib di sana, saya tetap lanjutkan sekolah hingga bangku SMP, lalu masuk sekolah guru SPG. Terus terang, berkat uluran tangan guru Odin, saya dapat jadi pegawai negeri. Jadi anggota KORPRI. Dan dengan lantang penuh semangat selalu menyanyikan lagu Mars KORPRI: Satukan irama langkahmu/ Bersatu tekad menuju ke depan/ Berjuang bahu membahu/ Memberikan tenaga tak segan/ Membangun negara yang jaya/ Membina bangsa besar sejahtera/ Memakai akal dan daya/ Membimbing membangun mengemban/ Berdasar pancasila dan undang-undang dasar 45/ Serta dipandukan oleh haluan negara kita maju terus/ Dibawah panji korpri/ Kita mengabdi tanpa pamrih/ Dibawah naungan Tuhan Yang Maha Kuasa/ Korpri… Nganjuk terus ! (PADA PENONTON) Salah ? Dimana salahnya ? Syair akhir ? Memangnya saya nyanyi apa ? (TERTAWA) Maaf, saudara-saudara. Ini Cuma guyon bagaimana kalau saya ralat; dibawah naungan Tuhan Yang Maha Kuasa Korpri maju terus ! Seharusnya begitu kan ? Ngomong-ngomong, saudara-saudara, rata-rata pegawai negeri seperti saya, atau pegawai swasta, pelajar, mahasiswa, wiraswastawan, seniman, pokoe wong kabeh yo kita semua tahu, harga sudah sampai ke desa. Desa sekarang bukan desa dulu. Sekarang koran dan bahkan parabola sudah ada di tempat-tempat terpencil. Begitu harga diumumkan disesuaikan di Ibukota. Sekejap sudah bergema di desa-desa. Otomatis ! Artinya kita harus siap apapun yang terjadi. Ya, kita harus menerimanya. Wong kita… apalagi saya, abdi negara. Abdi masyarakat memementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi ataupun golongan (MELIHAT ARLOJI). Wah ! Saudara-saudara pasti upacara tujuh belasan sudah selesai sudah kelar ya ? Maaf, saya harus pergi. Walaupun siap ditegur oleh kepala sekolah. Sepeda ini akan saya bawa. Sampai jumpa lagi saudara-saudara ! Sampaikan salam saya pada semua abdi negara dimanapun berada ! Sekali guru tetap guru. Kita bangga jadi pahlawan tanpa tanda jasa monggo.! (LAGU HIMNE GURU TERDENGAR PERLAHAN). Selesai.

0 komentar

Posting Komentar